Rabu, 29 Mei 2013

Ironi Nasionalisme Daerah Perbatasan dalam Film “Tanah Surga... Katanya” : Suatu Tinjauan Sosiologis


Film “Tanah Surga Katanya” menjadi Film Terbaik FFI 2012.  Film bertemakan nasionalisme yang dibintangi oleh Fuad Idris sebgaia Hasyim, Ence Bagus sebagai Haris, Aji Santosa sebagai Salman, Tissa Biani Azzahra sebagai Salina, Ringgo Agus Rahman sebagai Dokter Anwar,  dan Astri Nurdin sebagai Astuti ini merupakan film satir terhadap pemerintah Indonesia atas ironi nasionalisme daerah perbatasan. Di tengah serangan gencar film-film horror yang kental dengan erotismenya, Herwin Novianto, sang sutradara, justru ingin mengingatkan kita pada permasalahan kesejahteraan di daerah perbatasan. Ia mengaku sengaja membuat film ini untuk memperingati hari kemerdekaan 17 Agustus 2012.Tanah Surga ...Katanya” menceritakan tentang kisah seorang anak di perbatasan Indonesia-Malaysia yang cinta akan Indonesia dan tidak ingin meninggalkan Indonesia meskipun diajak oleh Ayahnya pindah ke Malaysia. Sang anak terpacu oleh kakeknya yang dahulunya adalah tentara Indonesia saat melawan Malaysia.
            Latar film ini diambil di suatu dusun terpencil di pelosok Kalimantan, di daerah perbatasan Indonesia-Malaysia. Di dusun tersebut hanya ada satu sekolah dengan satu ruang dan satu papan tulis yang semuanya dibagi menjadi dua, yaitu sebelah sisi untuk kelas 3 dan sisi lainnya untuk kelas 4. Tidak jauh berbeda dengan tenaga pengajar, yaitu Ibu Guru Astuti adalah orang yang secara kebetulan dan terpaksa mengajar di dusun itu. Problematika pendidikan di daerah-daerah perbatasan karena minimnya fasilitas sarana dan pra-sarana merupakan penyebab dari rendahnya minat dan tingginya keengganan sumber daya manusia tenaga pengajar untuk bertugas di daerah pelosok seperti itu.
            Dalam film ini disuguhkan juga beberapa shoot yang mencitrakan bahwa negara Malaysia lebih mapan daripada negara Indonesia. Ada dua shoot yang paling menonjol. Shoot pertama yang perlu diperhatikan adalah ketika Haris, ayah Salman, datang ke dusun untuk menengok keluarganya. Saat melewati perbatasan, kamera mengarahkan shootnya tepat pada batas Malaysia-Indonesia di mana jalanan Malaysia sudah beraspal meski di daerah perbatasan, sedangkan jalanan Indonesia masih berupa tanah-kerikil yang jika hujan datang jalanan itu akan banyak terdapat genangan air dan berlumpur. Shoot selanjutnya yang menggambarkan ketimpangan antara pembangunan Indonesia dan Malaysia adalah ketika Salman datang ke sebuah pasar di Malaysia perbatasan. Ia terheran dan takjub akan kondisi Malaysia yang sangat jauh berbeda dengan dusunnya di Indonesia. Mulai dari bangunan-bangunan permanen (bertembok) bertingkat hingga sandang yang dikenakan orang-orang Malaysia. Semuanya nampak lebih baik.
Kehidupan yang ditawarkan di Malaysia yang jauh lebih baik mengakibatkan orang-orang di perbatasan rela melepas status WNI-nya. Namun, sesungguhnya masalah itu dapat ditanggulangi jika pemerintah Indonesia memberikan perhatian secara khusus untuk daerah perbatasan. Fenomena ini dapat dilihat pada adegan Haris membujuk Hasyim untuk pindah ke Malaysia.
Haris       :  Malaysia tu negeri yang makmur, Yah.
Hasyim    :  Negara kita lebih makmur, Haris.
Haris       :  Jakarta yang makmur, bukan di sini. Kita ni di pelosok Kalimantan. Siapa yang peduli?
Hasyim    :  Haris, mengatur negeri ini tidaklah mudah. Tidak semudah membalikkan telapak tangan. Tahu kau?
Haris       :  Tapi apa yang Ayah harapkan dari pemerintah? Mereka tidak pernah memberikan apa-apa untuk Ayah yang pernah berjuang di perbatasan.
Hasyim    : Aku mengabdi bukan untuk pemerintah. Tapi untuk negeri ini, bangsaku sendiri.
Haris       :  Sekali lagi, Yah. Aku cuma ingin menyejahterakan ayah, membahagiakan anak-anak. Dan aku…… aku sudah menikah dengan perempuan Malaysia, Yah.
Hasyim    :  Apa maksudmu, hah?!
Haris       :  Yah, supaya segala sesuatunya lebih mudah, saya harus menjadi warga negara sana, Yah. Yah, di sana ayah akan mendapatkan perawatan kesehatan yang lebih baik, anak-anak bisa bersekolah lebih tinggi, dan kita bisa tinggal di tempat yang lebih layak. Tak macam di sini, Yah!

Kebijakan sentralisasi politik dan pembangunan yang pernah diterapkan oleh pemerintahan Orde Baru dahulu memang memunculkan resistensi dari daerah-daerah. Sentralisasi pembangunan-pembangunan baik itu infrastruktur, pendidikan, dan sebagainya di pulau Jawa, khususnya di kota-kota besar seperti Jakarta, menimbulkan kesenjangan yang sangat timpang dengan daerah-daerah non-Jawa, terutama di daerah-daerah perbatasan. Walaupun pemerintahan Orde Baru sudah berakhir dan digantikan dengan pemerintahan era reformasi yang salah satu tuntutannya adalah kebijakan desentralisasi yang telah diwujudkan dalam bentuk otonomi daerah, namun masalah kesenjangan di daerah-daerah terpencil belum juga mendapatkan perhatian dari pemerintahan pusat dan daerah seperti dalam film ini. Padahal masalah pendidikan dan kesehatan secara terang-terangan sudah diatur dalam Undang-Undang Dasar 1945.
Perubahan sosial juga diceritakan dalam film ini. Sejak tahun 1963 ketika pemerintah RI melakukan Operasi Dwikora, yaitu perang melawan Malaysia, bendera Merah-Putih sudah tidak pernah dikibarkan lagi di daerah ini. Perang ini muncul sebagai akibat dari pelanggaran Malaysia atas perjanjian Manila. Malaysia menghina bangsa Indonesia. Simbol-simbol kenegaraan Indonesia di daerah ini dirusak.
Terkait dengan simbol-simbol itu, ada beberapa simbol negara Indonesia yang dihadirkan dalam film ini, yaitu bendera Merah-Putih, lagu Indonesia Raya, dan mata uang rupiah. Simbol-simbol tersebut digambarkan mengalami pendegradasian bahkan pengasingan dalam film ini. Pendegradasian terjadi pada simbol lagu kebangsaan Indonesia Raya. Saat itu, Dokter Anwar sedang mengajar anak-anak untuk menyanyikan lagu Indonesia Raya menggantikan Bu Astuti yang sedang ada keperluan di kota. Lized ditunjuk oleh Dokter Anwar untuk memimpin teman-temannya menyanyi. Namun, tidak disangka-sangka sebelumnya, yang dinyanyikan oleh anak-anak adalah lagu Kolam Susu, bukan lagu Indonesia Raya.
Anwar  :    Boleh kamu ke sini? Coba kamu pimpin semua temennya untuk nyanyi, ya. Kita menyanyikan lagu kebangsaan kita. Bisa, ya? Semuanya semangat, ya!
Lized   :    Siap, ya? Satu… dua… tiga… Bukan lautan hanya kolam susu, kali dan jala cukup menghidupimu…
Anwar  :    Stop dulu! Sebentar… sebentar… sebentar…
Lized   :    Kenapa, Pak?
Anwar  :    Kamu enggak tau lagu Indonesia Raya?
Lized   :    Dulu pernah diajarkan, Pak. Tapi sekarang dah lupa.
Anwar  :    Kenapa bisa lupa?
Lized   :    Ame sama kawan-kawan dah satu tahun diliburkan sebelum Bu Astuti datang.
Anwar  :    Jadi lagu nasional yang kamu tau apa?
Lized   :    Kolam susu.

Sementara itu, pengasingan terjadi pada dua simbol lainnya, yaitu bendera merah putih dan mata uang rupiah. Saat Bu Astuti menyuruh anak-anak untuk menunjukkan tugas membuat gambar bendera merah putih yang didapat olehnya adalah gambar-gambar berwarna merah dan putih yang bentuk dan komposisinya bukan berupa bendera Merah-Putih Indonesia. Ada yang berbentuk segitiga, layang-layang, garis belang-belang, dan lain sebagainya. Hanya Salina yang menggambar dengan benar. Itu pun ia ketahui dari kakeknya yang mantan pejuang perbatasan.
Tidak hanya sampai di situ, di film ini terdapat adegan lain yang lebih ironis, yaitu ketika pedagang Indonesia yang berdagang di Malaysia memakai bendera merah-putih sebagai kain pembungkus dagangannya. Dari sini dapat dilihat bahwa lambang negara yang satu ini tidak pernah dikenal oleh orang Indonesia sendiri.
Salman     :  Pak!
Pedagang  :  Apa?
Salman     :  Itu merah putih.
Pedagang  :  Ku tahu. Ini warnanya merah, ini warna putih, ini kuning, ini hijau, ini warna cokelat.
Salman     :  Merah putih itu bendera Indonesia, Pak.
Pedagang  :  Ini kain kan kain pembungkus dagangan aku.
Salman     :  Ini bendera pusaka.
Pedagang  :  (sambil menunjuk sebuah Mandau  milikny) Ini Mandau  pusaka kakek aku. Pergi no!

Di daerah perbatasan Indonesia-Malaysia seperti di pelosok Kalimantan ini, masyarakat pada umumnya tidak mengenal mata uang rupiah. Mereka hanya mengenal mata uang ringgit Malaysia. Hal ini dikarenakan orang-orang Indonesia di perbatasan ini berdagang di Malaysia daerah perbatasan. Mereka tidak berdagang dengan orang Indonesia di daerah lain karena akses untuk keluar dari daerah tersebut sangat sulit. Harus melalui sungai dan rawa-rawa yang penduduk sendiri tidak berani untuk melakukannya ketika hari sudah mulai gelap. Terlebih jika dihitung-hitung harga jual barang mereka akan melonjak tajam karena perhitungan biaya perjalanan mereka. Oleh karena itu, mereka lebih memlih untuk berdagang di Malaysia perbatasan.
Anwar   :    Makasih, ya. (sambil menyodorkan uang limapuluh ribu rupiah) Kembali tiga puluh.
Lized     :    Ini duit apa?
Anwar   :    Itu limapuluh ribu rupiah.
Lized     :    Tak pernah mandang ame.
Astuti    :    Lized, ada apa ini?
Lized     :    Bu Guru, dia mau tipu saya. Dia kasih saya uang palsu.
Anwar   :    Ini uang asli, Ibu. Limapuluh ribu. Bisa dilihat, diraba, diterawang. Asli ini.
Astuti    :    Ini duit Bapak saya tukar dengan ringgit, ya.
Lized     :    Nah, ini baru duit.

            Dari uraian ketiga simbol di atas, dapat dilihat bahwa ada suatu bentuk penyimpangan secara tersembunyi yang hanya dapat diketahui oleh masyarakat yang mengenali Indonesia dan memahami nasionalisme sebagai bentuk rasa cinta terhadap negerinya. Realita yang terjadi di masyarakat perbatasan adalah hilangnya nasionalisme tersebut. Meski sangat dimungkinkan dalam pembuatan film sutradara mendistorsi realita lain yang terkait dengan masalah ini dan hanya memfokuskannya pada masalah hilangnya nasionalisme.
Terkait dengan judul “Tanah Surga Katanya”, dalam film ini dikisahkan suatu hari ada pejabat provinsi datang ke sekolah Salman. Murid-murid menyambutnya dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya dan tarian khas Kalimantan Barat. Adapun sajian lain yang ditampilkan untuk para pejabat adalah deklamasi puisi karangan Salman oleh dirinya sendiri. Puisi itu merupakan puisi satir dengan judul Tanah Surga gubahan dari lirik lagu Kolam Susu yang sering didengar dan dinyanyikan anak-anak di dusun itu. Berikut lirik puisi Tanah Surga yang dibawakan oleh Salman.
Tanah Surga
Bukan lautan hanya kolam susu, katanya...
tapi kata kakekku, hanya orang-orang kaya yang bisa minum susu
Kayu dan jala cukup untuk menghidupimu, katanya...
tapi kata kakekku, ikan-ikan kita dicuri oleh banyak negara
Tiada badai tiada topan kau temui, katanya ...
tapi kenapa ayahku  tertiup angin ke Malaysia
Ikan dan udang menghampiri dirimu, katanya...
tapi kata kakek, awas! Ada udang di balik batu!
Orang bilang tanah kita tanah surga, tongkat dan batu jadi tanaman, katanya...
tapi kata dokter Intel belum semua rakyatnya sejahtera,
banyak pejabat yang menjual kayu dan batu untuk membangun surganya sendiri

Di akhir cerita, kakek Salman, Hasyim yang merupakan veteran pejuang perbatasan meninggal karena sakit jantung yang dideritanya. Selama ini, ia tidak mengobati penyakitnya. Alasan biaya menjadi alasan klasik dan lumrah bagi veteran apalgi yang tinggal di daerah perbatasan. Jangankan untuk dirawat di rumah sakit, membeli obat-obatannya pun ia tak mampu. Biaya perjalanan menggunakan sampan ke kota pulang pergi sudah menghabiskan 400 ringgit. Uang sebanyak itu memang tidak mustahil diperoleh, namun alangkah lebih berartinya bila uang sebanyak itu dipakai untuk keperluan lain daripada dihabiskan hanya untuk biaya perjalanan mengobati penyakitnya. Ia berpikir, kebutuhan cucu-cucunya jauh lebih penting daripada pengobatan penyakitnya itu.
Sebelum meninggal, Hasyim berpesan kepada cucunya, Salman, agar tetap mencintai bangsanya.
Hasyim  : Salman…
Salman   : Iya, Kek…
Hasyim  : Indonesia tanah surga. Apa pun yang terjadi pada dirimu, jangan sampai kehilangan cintamu pada negeri ini. Genggam erat cita-citamu, katakan kepada dunia dengan bangga “kami bangsa Indonesia….” Laa illaaha illallaah…..
Salman   : Kakek….!!

Sementara itu, di lain tempat, Haris sedang ber-euforia bersama warga Malaysia atas kemenangan Malaysia pada pertandingan sepakbola Malaysia melawan Indonesia. Dengan bangganya ia mengibarkan spanduk Malaysia. Dengan sepenuh hati ia mendukung Malaysia untuk menjadi jawaranya. Hilangnya rasa memiliki Indonesia, bergeseranya identitas diri menjadi orang Malaysia, telah terpatri dalam diri Haris.
Demikian digambarkan adanya perbedaan ideologi dari generasi satu ke generasi berikutnya, yaitu generasi nasionalisme Hasyim dengan generasi matrealistis Haris. Proses sosial yang terjadi dalam masyarakat perbatasan di mana mereka lebih sering berinteraksi dengan bangsa lain, ditambah dengan tidak adanya sosialisasi akan makna dan nilai nasionalisme mengakibatkan hilangnya rasa memiliki dan rasa cinta tanah air masyarakat tersebut.

Epilog
            Pusat perhatian sosiologis adalah bagaimana kelompok-kelompok dan institusi-institusi berfungsi. Insitutsi di sini dipahami sebagai cara-cara terbentuknya sebuah pola dan mengorganisasikan kehidupan sosial.
Fenomena-fenomena yang digambarkan di atas merefleksikan bagaimana sebuah masyarakat membentuk pola dan mengorganisasikan kehidupan sosial. Identitas sosial mereka mengalami pergeseran, yang mulanya mengaku orang Indonesia kemudian setelah mereka merasa tidak mendapat perhatian oleh pemerintah Indonesia dan merasa lebih difasilitasi oleh negara Malaysia, mereka pun berusaha untuk menjadi warga negara Malaysia. Salah satu upaya yang mereka lakukan adalah menikah dengan orang Malaysia dan bertempat tinggal di sana. Entah ada berapa puluh atau bahkan ratus orang yang telah mengalami pergeseran identitas itu, berpindah kewarganegaran dan domisili, semuanya tidak pernah tercatat dalam administrasi pemerintahan Indonesia. Nasionalisme warga negara Indonesia di perbatasan seolah tergadai karena tuntutan ekonomi. Tidak ada yang mensosialisasikan nasionalisme, sementara kebutuhan ekonomi, pendidikan, dan kesehatan terus meningkat. Pemerintah Indonesia juga tidak pernah melakukan usaha prefentif maupun represif untuk para WNI yang berpindah kewarganegaraan dan domisili.
Film “Tanah Surga... Katanya” hanyalah contoh kecil film yang kental dengan teori sosiologi. Hasyim yang berusaha tetap mempertahankan nasionalismenya dalam gencarnya  perubahan pola pikir dan hidup masyarakat daerah perbatasan untuk lebih memilih Malaysia sebagai tempat berlabuh, ia tularkan kepada cucunya, Salman. Nasionalisme itu ternyata dapat diterima dengan baik olehnya, meski ayahnya telah berpindah kewarganegaraan dan domisili dengan kehidupan yang lebih layak. Ia bertahan dengan nasionalisme yang sarat keterbatasan.
Seandainya jika kita yang mengalami kenyataan seperti di atas, apakah kita akan tetap mempertahankan nasionalisme seperti Hasyim? Atau memilih jalan realistis mendapat keuntungan materi yang lebih banyak dengan mempertaruhkan nasionalisme kita seperti Haris? 


Daftar Rujukan
Adi, Tri Nugroho. 2011. Analisis Sosiologis dalam Film, sinaukomunikasi.wordpress.com. Diakses 3 Oktober 2012.
Fachrozi, Irzan. 2012. Tanah Surga Katanya? Sebuah Analisis, ........ Diakses 29 Desember 2012.
Film Tanah Surga Katanya. wikipedia.co.id. Diakses 29 Desember 2012.


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar