Tampilkan postingan dengan label Kajian Sinema. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kajian Sinema. Tampilkan semua postingan

Jumat, 30 Juni 2017

The Wife: A Study in Patriarchy

The Wife adalah sebuah novel karya Meg Wolitzer yang menceritakan tentang seorang penulis yang sukses dan mendapat penghargaan bergengsi, Joe. Ia memiliki istri bernama Joan. Kisah Joe dan Joan dalam novel ini diceritakan sarat dengan budaya patriarki yang berkembang di Inggris. Konsep patriarki, khususnya di Inggris, mudah ditemukan dalam kehidupan sehari-hari. Laki-laki memiliki kuasa lebih banyak daripada kaum perempuan. Dalam sektor pekerjaan yang sama dan dengan jabatan yang sama, laki-laki mendapat 15% gaji lebih besar daripada perempuan. Hal tersebut dianggap hal yang biasa terjadi, mengikuti peraturan gender yang tradisional. Ideologi ini juga dapat dijumpai pada bagaimana peran seorang ibu yang selalu mendahulukan menyajikan makanan di piring anak laki-laki terlebih dahulu sebelum menyajikannya di piring anak perempuan atau perlakuan seorang atasan laki-laki kepada pekerja perempuan dalam gaya berbicara yang diperhalus dan lebih banyak bujukan, seperti sedang berbicara kepada anak kecil.
Novel The Wife merupakan salah satu contoh bagaimana budaya patriarki berkembang dan memberikan efek kumulatif dalam kehidupan sehari-hari. Joan Castleman sebagai tokoh utamanya adalah laki-laki yang superior. Sebelum menikah dengan istrinya, Joan, ia sudah menjadi seorang penulis. Novel ini dibuka dengan cerita mereka ketika berada dalam perjalanan dengan menggunakan sebuah pesawat ke Helsinki di mana Joe mendapat penghargaan dalam bidang sastra. Di dalam pesawat Joe tergoda oleh tawaran “pelayanan” yang diberikan oleh seorang wanita. Mengetahui itu, Joan memutuskan untuk bercerai dengan Joe. Di situlah Joe teringat bahwa selama ini Joan telah lama ada bersamanya hanya untuk memenuhi kebutuhan dan impian-impiannya. Dia tidak berdiri sendiri tanpa Joan.
Joe, meski ia digambarkan sebagai laki-laki yang superior bahkan semena-mena terhadap perempuan, Wolitzer justru mendeskripsikan masa kanak-kanak Joe yang bertolak belakang dengan keadaannya masa dewasa. Joe dibesarkan oleh orang tua tunggal, yaitu ibunya, karena ayahnya meninggal ketika ia masih kecil. Peristiwa peristiwa pengkhianatan laki-laki terhadap bibi-bibinya mengelilingi dunia Joe kecil. Di satu sisi, perempuan-perempuan tersebut merasa sakit hati dengan hak istimewa laki-laki secara patriarkal karena menjad korban kekerasan dan mereka harus tabah menjalaninya. Namun, di waktu yang sama mereka juga tidak mau melawan apa budaya leluhurnya dan mengajarkannya secara tidak langsung kepada anak laki-laki mereka. Kontradiksi antara pemberdayaan dan sikap tunduk ini teresonansi dalam dunia nyata.
Di bagian lain, Wolitzer menggambarkan mengenai perempuan Chili sebagai perempuan kaki-tangan machismo (kejantanan) yang kuno. Mereka melayani kaum laki-laki dengan baik dan mengurus anak-anak. Berbeda dengan perempuan modern yang memberontak, namun pada akhirnya mereka tak berdaya juga karena perasaan kasih dalam dirinya dan itu menjadikan mereka sebagai korban kaum laki-laki. Hal ini juga yang mendasari Wolitzer menggambarkan karakter Joe sebagai seorang laki-laki yang selalu dilayani oleh perempuan, khususnya istrinya. Dari bangun pagi hingga tidur malam, sesungguhnya ia sangat bergantung pada perempuan.
Dalam konteks feminin, Joe dihubungkan dengan dengan bagaimana ia mengikuti gaya perempuan ketika ia berinteraksi dengan perempuan. Gaya bicaranya akan berbeda dengan ketika ia kontak dengan sesama laki-laki. Seperti pada saat pertama ia berhubungan dengan Joan. Joe menggoda Joan. Tulisan Joan, meski tak terlalu bagus, namun Joe tetap memujinya. Ada sesuatu yang ia inginkan dari Joan dan Joan menerimanya. Inilah alasan mengapa Joe meninggalkan istri dan anaknya untuk bersama dengan Joan.
Dalam kehidupannya bersama Joan, karir Joe terus meroket. Sebagai seorang yang memiliki popularitas, Joe selalu berusaha menenangkan Joan agar ia percaya kepada Joe sepenuhnya, yaitu dengan melakukan “lip service”. Joe juga mengatakan bahwa Joan adalah separuh hidupnya. Namun, di saat lain Joe juga mengkhianati Joan. Ia terbiasa bertemu dan tidur bersama penggemar-penggemarnya.
Dalam kaitannya dengan perspektif Marxisme, The Wife menggambarkan hubungan antara pemilik modal dengan buruh; Joe sebagai pemilik modal dan Joan sebagai buruh. Pemilik modal akan selalu mendapat lebih banyak keuntungan daripada buruh. Pengkhianatan Joe menggambarkan bagaimana kelas pemilik modal melakukan kesewenangan. Bujukan Joe terhadap Joan menggambarkan bagaimana pemiliki modal melakukan trik agar dapat mempekerjakan orang-orang dari kelas buruh dan mempertahankan mereka sebagai usaha untuk mendapat keuntungan bagi dirinya.
Prestasi Joe digambarkan begitu eksplisit, sedangkan kontribusi Joan tidak muncul di permukaan. Sama seperti ketika perusahaan besar mendapat nama besar atas mutu produknya. Perusahaan yang mendapatkan eksistensi, namun para buruh atau orang-orang yang bekerja di balik layar tidak akan terekspos meski pada kenyataannya merekalah yang memiliki kontribusi besar terhadap kualitas produk perusahaan tersebut.
Keputusan bercerai yang diambil Joan dalam perjalanan menuju Helsinki menggambarkan kaum yang memberontak. Di titik ini pemilik modal akan menyadari bahwa mereka tidak akan mencapai kesuksesan tanpa adanya buruh-buruh yang bekerja pada perusahaan-perusahaan mereka. Eksploitasi yang berlebihan akan menuai banyak konflik yang berujung pada pemberontakan kaum buruh.




(disarikan dari Tony McKenna Art, Literature and Culture”)


 

Rabu, 29 Mei 2013

Tinjauan Psikoanalisis dalam Film Taare Zameen Par “Every Child is Special”

Sinopsis
Alkisah ada seorang anak yang bernama Ishaan Awasthi yang duduk di kelas tiga sekolah dasar. Ia mendapat julukan idiot dan citra anak nakal, baik di sekolah maupun di rumahnya. Ishaan lahir di keluarga yang serba teratur dan menilai seseorang dari pencapaian. Ayahnya, Nandkishore Awasthi adalah seseorang yang sangat tepat waktu, disiplin, dan serius. Kakaknya, Yohaan Awasthi juga begitu mirip dengan ayahnya yang perfeksionis. Sedangkan ibunya, meski tidak sepakem dengan ayahnya, tetapi ibunya juga merupakan seseorang yang serba tertata.
            Ishaan, meski sudah duduk di bangku kelas tiga, dia tidak bisa membaca dan menulis dengan benar. Oleh karena itu, ia pun harus mengulang setahun di bangku kelas tiga. Ketertinggalan Ishaan dalam semua mata pelajaran selalu diperbandingkan dengan keberhasilan Yohaan dalam hal akademik maupun nonakademik oleh ayahnya. Di sekolahnya pun tidak ada yang percaya bila Yohaan adalah kakak Ishaan karena karakter dan kecerdasan mereka yang sangat jauh berbeda.
            Di tengah tahun Ishaan membuat masalah izin palsu yang ia dapatkan dengan cara memaksa Yohaan membuatnya. Masalah tersebut akhirnya membawa Ishaan menghadapi keputusan ayahnya untuk dipindahkan sekolah dan Ishaan harus tinggal di asrama. Meski Ishaan tidak mau dan ibunya pun tak rela, tetapi ayahnya tetap saja bersikeras membawa Ishaan ke asrama dan sekolah yang lebih disiplin dengan harapan Ishaan dapat berubah menjadi seorang anak yang disiplin, tidak nakal, dan berhasil. Perpisahan tersebut membuat Ishaan menjadi sedih dan berubah menjadi anak yang pendiam.
            Di sekolah yang baru Ishaan tidak mengalami kemajuan apa-apa, bahkan mengalami kemunduran dalam mentalnya. Ia berubah menjadi anak yang pemurung, selalu melamun, dan menarik diri dari lingkungan sosialnya. Namun, ada satu teman yang cukup dekat dengan dirinya, yaitu Rajan Damodran. Rajan adalah anak dari manager sekolah tersebut. Ia anak cerdas juga baik hati.
            Hari-hari dilalui Ishaan penuh dengan kesenduan. Ia mengalami depresi akibat kekerasan psikis maupun fisik yang dilakukan oleh guru-gurunya. Hingga pada suatu saat ada guru seni baru yang bernama Ram Shankar Nikumbh. Ram mengajar seni kepada anak-anak dengan cara yang sangat berbeda dari guru seni sebelumnya di sekolah itu. Ia membebaskan anak-anak berkreasi sesuai dengan imajinasinya. Dengan cara mengajarnya yang seperti itu, Ram pun menjadi bahan olok-olok oleh guru-guru lainnya karena dinilai tidak disiplin dan tidak tertib.
            Suatu hari Ram memberikan tugas menggambar kepada anak-anak. Semua anak dalam kelas tersebut menggambar dengan riang dan penuh antusias, kecuali Ishaan. Ia hanya melamun dan bermurung diri saja, tidak mau menggambar. Meski demikian, Ram tidak memaksanya untuk menggambar.
            Perilaku Ishaan dari hari ke hari semakin terlihat aneh oleh Ram. Ishaan semakin menutup diri dari siapa pun. Bahkan Rajan, teman sebangkunya pun sering tidak tahu kemana Ishaan pergi. Keanehan Ishaan memancing keingintahuan Ram sebagai pengajar sekaligus pendidik di sekolah itu. Ia bertanya kepada Rajan tentang Ishaan. Rajan pun menjelaskan bahwa Ishaan adalah anak yang bermasalah di sekolahnya yang dulu dan tidak bisa membaca maupun menulis meski ia sudah kelas tiga.
            Ram semakin penasaran mengenai Ishaan. Ia membuka-buka kembali buku-buku Ishaan, mencari informasi tentang Ishaan, dan akhirnya menemukan bahwa Ishaan menyandang disleksia seperti dirinya. Disleksia adalah ketidakmampuan seseorang untuk mengenali huruf-huruf dan angka serta tidak dapat memperkirakan jarak, kecepatan, dan arah. Disleksia ini merupakan kelainan berdasar faktor keturunan. Setelah memastikan hal tersebut Ram pun menemui keluarga Ishaan untuk memberi tahu bahwa Ishaan bukanlah anak idiot, tetapi hanya mengalami disleksia. Ram juga menemui kepala sekolah bahwa Ishaan adalah anak yang cerdas tetapi menyandang disleksia. Ram meminta agar Ishaan tidak dipindahkan ke sekolah untuk anak berkebutuhan khusus dan memberikan perlakuan yang adil dengan menjanjikan Ishaan akan berubah menjadi anak yang cemerlang di bawah bimbingannya.
            Ram dengan sabar membimbing Ishaan agar Ishaan bisa mengejar ketertinggalannya dengan cara yang menyenangkan. Perlahan Ishaan berubah menjadi anak yang pintar, pandai membaca dan menulis dengan benar, dan kembali menjadi anak yang periang. Ishaan juga mulai menjadi pribadi yang disiplin dan penuh semangat.
            Suatu hari Ram membuat acara lomba melukis bagi para siswa dan guru dengan Lalitha Lajmi, seorang guru dan pelukis terkenal India, sebagai jurinya. Lomba tersebut mendapat antusias tinggi dari para siswa dan guru. Seisi sekolah mengikuti perlombaan itu dengan penuh keceriaan. Dalam perlombaan itu guru-guru yang sebelumnya meremehkan pelajaran seni, merasa kesulitan untuk membangun imajinasi dan menumpahkannya dalam sebidang kertas dengan sapuan-sapuan warna dari cat air ataupun crayon. Mereka baru sadar bahwa melukis adalah pekerjaan yang tidak mudah. Melukis akan sulit bila kita tidak cukup memiliki imajinasi yang tinggi dan keseriusan.
            Pada akhir acara, kepala sekolah mengumumkan siapa pemenang lomba melukis itu. Ia menjanjikan akan menjadikan lukisan pemenang tersebut menjadi cover buku sekolah pada tahun ajaran berikutnya. Semua orang yang ada di situ tidak menyangka bahwa Ishaan-lah yang menjadi pemenang. Lukisan yang ia buat begitu hidup, seperti bukan lukisan anak SD, tetapi lukisan seorang ahli lukis.
Gambar 1. Lukisan Ishaan yang dijadikan sampul buku sekolah
           
Tidak hanya melukis, Ishaan pun mendapat nilai-nilai bagus dalam setiap mata pelajaran lainnya, seperti matematika, bahasa, dan geografi. Semua itu berkat kesabaran dan keuletan Ram dalam membimbing Ishaan. Orang tua Ishaan sangat berterima kasih kepada Ram karena berkat dia Ishaan menjadi seorang anak yang cemerlang. Kedua orang tuanya pun akhirnya menyadari bahwa selama ini telah salah dengan cara membimbing Ishaan yang mereka samakan dengan cara membimbing Yohaan. Mereka menyadari bahwa setiap anak memiliki keistimewaan masing-masing dan tidak dapat dipersamakan.

Analisis Karakter Pemain
1.      Darsheel Safary sebagai Ishaan Awasthi: seorang anak berumur 8-9 tahun, penyandang disleksia, dan dijuluki idiot. Sebenarnya ia adalah anak yang cerdas, senang berimajinasi, kreatif, dan periang. Namun karena kekerasan fisik dan mental yang dialaminya ia berubah menjadi seorang anak yang pendiam dan pemurung. Sebenarnya ia sangat menyayangi kedua orang tuanya dan kakaknya. Ia juga merindukan sosok seorang ayah yang perhatian dan selalu berada di sampingnya.
2.      Aamir Khan sebagai Ram Shankar Nikumbh: seorang penyandang disleksia yang menjadi guru di sekolah khusus anak-anak cacat yang kemudian juga mengajar seni di sekolah Ishaan. Ram adalah sosok guru yang menyenangkan dan sabar. Ram merupakan tokoh pahlawan dalam film ini.
3.      Vipin Sharma sebagai Nandkishore Awasthi / Papa: seorang yang sangat disiplin dan ambisius. Ia menginginkan serba tepat waktu, mendapat hasil yang sempurna, dan dapat menjadi pemenang di setiap kompetisi.
4.      Tisca Chopra sebagai Maya Awasthi / Mama: seorang ibu yang sangat menyayangi anak-anaknya. Maya adalah seorang wanita yang lemah lembut, tegar, menghormati dan patuh terhadap suaminya. Ia mengorbankan kariernya demi bisa mendidik Ishaan, meski ia terkadang sulit untuk bersabar menghadapi Ishaan.
5.      Sachet Engineer sebagai Yohaan Awasthi: adalah kakak dari Ishaan. Dia sangat menyayangi Ishaan. Dia adalah siswa terbaik di sekolahnya, hampir selalu mendapat nilai sempurna dia semua mata pelajaran, dan juga memiliki banyak prestasi di bidang olahraga. Karakter Yohaan merupakan gabungan dari karakter ayahnya, seorang yang ambisius, perfeksionis, dan sangat disiplin, dan karakter ibunya, seorang yang lemah lembut dan penyayang.
6.      Tanay Chheda sebagai Rajan Damodran: adalah teman yang paling dekat dengan Ishaan. Ia anak yang paling disiplin dan pintar di kelasnya, teman yang paling peduli dengan Ishaan. Ia merupakan orang pertama yang mengakui Ishaan memiliki kemampuan lebih dalam menginterpretasi puisi.

Teori Konflik
1.      The unvisible conflict. Konflik ini terjadi antara Yohaan dengan ayah. Yohaan sebenarnya tidak setuju Ishaan dipindahkan dari sekolahnya dan harus tinggal di asrama. Namun Yohaan tidak berani menentang ayahnya. Konflik batin Yohaan ini diketahui dari ekspresi dan adegan Yohaan saat perpisahan dengan adiknya itu.
2.      The perceived/experienced conflict. Di dalam film ini ada beberapa konflik yang terjadi karena perbedaan pendapat, harapan, kebutuhan, motif, tuntutan atau tindakan. Antara lain konflik ayah dengan ibu dan Ishaan ketika Ishaan diputuskan harus pindah sekolah dan tinggal di asrama dan konflik antara ayah dengan Ram mengenai disleksia yang disandang oleh Ishaan.
3.      The fighting. Ini terjadi ketika Ishaan berkelahi dengan Rajan, tetangganya, dan ketika Ishaan dimarahi oleh ayahnya karena masalah tersebut. Ayahnya menampar pipinya. Pukulan dari guru seni juga diterima oleh Ishaan ketika ia mendapatkan pelajaran seni di kelas. Pukulan ini disebabkan karena Ishaan tidak memperhatikan gurunya.
Ada beberapa konflik yang memiliki fungsi paling menonjol dalam keterjalinan alur/plot dalam film ini, Konflik-konflik tersebut dapat dipahami dari teori utama sebab-sebab konflik di bawah ini.
1.      Teori kebutuhan manusia. Konflik dalam diri Ishaan yang membutuhkan pengakuan dan keamanan yang diwujudkan dalam kasih sayang dan perhatian oleh kedua orang tuanya.
2.      Teori negosiasi prinsip. Perbedaan pandangan dan pendapat antara Ram Shankar Nikumbh dengan Nandkishore Awasthi mengenai disleksia yang disandang oleh Ishaan.
3.      Teori identitas. Pengalaman kekerasan yang dilakukan guru dan ayahnya menjadikan Ishaan kehilangan jati dirinya. Kepribadiannya yang semula ekstrovert berubah menjadi sangat introvert.
4.      Teori kesalahpahaman antarbudaya. Perbedaan budaya pengajaran seni yang dibawa oleh Ram Shankar Nikumbh dengan budaya pengajaran di sekolah barunya membuat Ram mendapat olok-olok dari rekan-rekan gurunya.

Analisis Anatomi Konflik
            Konflik utama dalam film ini adalah kesalahan dalam mengenali gejala diskleksia, khususnya yang dilakukan oleh orang tua dan guru. Ishaan sebagai tokoh utama diceritakan menyandang disleksia, yaitu ketidakmampuan untuk mengenali huruf dan angka serta tidak dapat memperkirakan jarak, kecepatan, dan arah. Meskipun demikian, daya imajinasinya yang tinggi membuatnya pandai dalam melukis dan membuat benda-benda kerajinan tangan yang kreatif, seperti menara mainan, patung-patung dari lilin, dan perahu yang bisa bergerak dengan bantuan kincir sederhana.
Gambar 2. Salah satu gejala disleksia: keterbalikan penulisan huruf dan angka sebagai indikasi kesulitan dalam mengenali huruf dan angka

Kedua orang tuanya serta guru-gurunya sangat mengkhawatirkan perkembangan Ishaan. Terutama ayahnya yang selalu memarahi Ishaan dan bersikap pilih kasih terhadap Ishaan. Guru-guru di sekolahnya sering kali memarahi dan mengejek Ishaan, begitu pula teman-temannya senang sekali mengejek Ishaan dan menjauhi Ishaan. Tidak ada satu pun yang mau berteman dengannya.
            Ishaan dianggap anak yang sangat bodoh, karena di usianya yang sudah relatif memiliki kognitif tersebut, Ishaan sama sekali tidak pernah bisa membaca dan menulis dengan benar. Bahkan untuk melempar bola saja ia tidak bisa memperkirakan arah, jarak, dan kecepatan. Selain itu, Ishaan tidak bisa tertib. Ia selalu bangun kesiangan, lambat, dan suka bermain-main.
            Sayangnya, orang-orang di sekitar Ishaan tidak cukup memahami apa yang sebenarnya terjadi pada dirinya. Guru-guru di sekolahnya selalu memarahi dan mengejeknya, begitu pula teman-temannya. Mereka sangat senang mengolok-olok dan mengucilkan Ishaan. Karena berulang kali melakukan kesalahan yang sama dalam menulis, ibunya pun selalu memarahi dan mengatakan bahwa ia tidak akan pernah berhasil. Ibunya memaksanya untuk membetulkan kesalahan-kesalahannya dalam menulis, meski Ishaan tidak pernah mau melakukannya. Ayahnya yang ambisius dan perfeksionis tidak tahan melihat perilaku Ishaan yang dinilainya nakal, tidak bisa diatur, dan begitu bodoh karena ia sering sekali melakukan kesalahan yang sama memutuskan Ishaan untuk pindah sekolah dan menetap di asrama. Tujuannya agar Ishaan dapat mengejar ketertinggalan dari teman-temannya dan mendisiplinkan diri. Ayahnya berwatak sangat keras, bahkan untuk menuruti kemauannya, ia tega main tangan dengan anak kandungnya sendiri.
Gambar 3. Nandkishore (Ayah) memukul Ishaan karena telah berkelahi dengan tetangganya
           
Konflik meluas ketika Ishaan terpaksa harus tinggal jauh dari ibunya. Ia harus hidup di asrama yang menurut ayahnya dapat menjadikan Ishaan sebagai anak yang lebih disiplin dan tidak nakal lagi. Ketika itu Ishaan semakin merasa tersisihkan dari lingkungannya. Alam bawah sadarnya yang menentang keputusan ayahnya itu direfleksikan ke dalam mimpinya. Ia bermimpi ia berada di setasiun kereta yang padat dan kehilangan ibunya yang sudah lebih dulu naik kereta sementara ia tertinggal di setasiun sendirian.
            Berpisahnya Ishaan dengan keluarganya menjadikan ia depresi. Ditambah lagi dengan perlakuan keras dari guru seninya yang memukul tangannya karena ia tidak memperhatikan di kelas. Ketertekanannya semakin menjadi karena dia tidak mempunyai seorang pun untuk mencurahkan isi hatinya, atau bahkan sekedar untuk bercanda, seperti yang ia lakukan dengan ibu atau kakaknya. Akibatnya, ia tidak mau melakukan apa-apa kecuali bersedih dan bermuram diri. Bahkan ia yang biasanya selalu mencurahkan isi hatinya dan pikirannya melalui lukisan pun berhenti melukis. Ia sama sekali tidak tertarik pada hal apa pun.
Gambar 4a.                                                               Gambar 4b.
Gambar 4c.
Kisah perpisahan dengan keluarganya diceritakan melalui lukisan. Gambar flip yang sangat jarang ditemui pada karya tingkat sekolah dasar.

Analisis Psikologis Karakter dengan Psikoanalisis
            Id merupakan kebutuhan dasar di alam bawah sadar manusia. Tokoh yang memiliki id dominan di dalam film ini adalah Ishaan Nawasthi. Ia senang bertindak menuruti keinginan-keinginan pribadinya secara tak sadar, seperti iseng dengan pagar rumahnya, mengambil roti di dapur dengan tangan yang masih sangat kotor, menginjak genangan air yang jelas-jelas akan membuat sepatunya kotor, berceloteh menirukan suara-suara hewan saat ia sedang menjalani hukuman sebagai usaha untuk menghibur dirinya sendiri, dan sebagainya.
Ego berfungsi menjembatani tuntutan id dengan realitas di dunia luar. Tokoh yang memiliki ego dominan adalah Ram Shankar Nikumbh. Ia memecahkan konflik-konflik secara objektif, dirinya dapat mengontrol apa yang masuk ke dalam kesadaran dan apa yang akan dilakukan.
Superego berfungsi sebagai pengontrol ego. Aktivitas superego dapat berupa self observation, kritik diri, dan larangan dan berbagai tindakan refleksif lainnya. Tokoh yang memiliki superego kuat adalah Nandkishore Awasthi, ayah Ishaan. Ia bertindak dengan serba teratur dan senang mengatur. Menurutnya hidup itu penuh aturan, manusia harus disiplin demi mendapatkan pencapaian yang maksimal dan kesuksesan. Itu merupakan nilai-nilai yang ia terima dari proses internalisasi dalam hidupnya semenjak usia kanak-kanak.  

Defence Mechanism dan Dissociative Identity Disorder (DID)
            Defence mechanism atau mekanisme pertahanan diri adalah cara individu mereduksi perasaan tertekan, kecemasan, stres, ataupun konflik, baik dilakukan secara sadar maupun tidak. Freud menggunakan istilah mekanisme pertahanan diri untuk menunjukkan proses tak sadar yang melindungi individu dari kecemasan melalui pemutarbalikkan kenyataan. Tokoh yang mengalaminya dalam film ini adalah Ishaan Awasthi.
            Ishaan sering sekali berkata “tanpa ketakutan”, “tidak ada ketakutan”, “aku tidak takut” untuk melawan perasaan yang sebenarnya. Dalam kondisi psikis yang sebenarnya ada ketakutan untuk menghadapi dunia. Hal ini paling kentara ketika adegan Ishaan diolok-olok temannya karena ia akan dipindahkan ke sekolah berasrama yang jauh dari rumah. Meski mulutnya mengatakan “tidak takut” tetapi batinnya meronta dan ia pun menangis sambil melemparkan kembang api ke arah teman yang mengolok-oloknya itu.
            Dissociative Identity Disorder (DID) adalah keadaan jika seseorang mempunyai dua ego yang berbeda (alter ego), yang masing-masing ego tersebut mempunyai perasaan, kelakuan, kepribadian yang eksis secara independen dan keluar dalam waktu yang berlainan. Ishaan juga mengalami DID, yaitu kepribadiannya yang semula ekstrovert menjadi introvert yang disebabkan karena kekerasan psikis. Kekerasan ini terwujud dari pemaksaan untuk pindah sekolah oleh ayahnya dan perlakuan tidak baik dari para guru barunya.

Identitas dan Dramaturgi
            Tokoh yang cukup menarik dikaji adalah Ishaan Awasthi dan Nandkishore Awasthi. Karakter Ishaan dalam film ini sebenarnya merupakan anak yang penyayang dan mendambakan perhatian dari seorang ayah. Sifat penyayang dapat dilihat dari adegan ketika Ishaan menanyakan oleh-oleh kepada ayahnya. Ia tidak hanya menanyakan oleh-oleh untuknya, tetapi juga oleh-oleh untuk kakaknya. Kemudian adegan ketika Ishaan berada di balkon sekolah barunya. Temannya, Rajan, terjatuh dan ia segera menolongnnya untuk berdiri lagi.
            Nandkishore Awasthi digambarkan sebagai seseorang yang keras dan angkuh. Namun, di bagian akhir film ini Nandkishore akhirnya menyadari kesalahannya dan terharu ketika Ishaan, anak yang selama ini ia pandang sebelah mata dan ia hakimi sebagai anak yang tidak akan pernah sukses, mengalami perkembangan yang luar biasa. Mulanya Nandkishore selalu pesimis dengan keberhasilan Ishaan, tetapi pandangannya tersebut kemudian runtuh karena hasil ujian Ishaan yang memuaskan. Ketika ia mendapat laporan tentang hal tersebut, ia yang biasanya selalu banyak bicara, kali itu tidak dapat berkata apa-apa. Ia hanya dapat menangis terharu, ekspresi suatu reaksi yang lebih mendalam bila dibandingkan reaksi dari Maya Awasthi ketika itu.

Teori Simbol
            Film ini juga menggunakan teori simbol yang bersifat konotatif. Ada makna yang tersirat dari lukisan-lukisan yang dibuat oleh Ishaan Awasthi. Setiap lukisannya selalu menggunakan warna-warna tebal dan berani. Ini menandakan bahwa sebenarnya ia adalah seorang anak yang penuh percaya diri dan tidak ragu-ragu akan apa yang diperbuatnya.

            Kedua, ada keterkaitan di antara lukisan-lukisannya yang banyak menggunakan objek bintang dan planet-planet (luar angkasa). Simbol-simbol bintang ini sebenarnya merupakan manifestasi keinginan dan harapannya bahwa ia pun suatu saat nanti ingin menjadi bintang, seseorang yang dapat menerangi, membanggakan orang lain, terutama kedua orang tuanya. Sementara itu air dan ikan yang juga sering menjadi objek lukisan dan perhatiannya sebenarnya merupakan simbol dari fleksibilitas. Ia tidak suka dengan sesuatu yang kaku. Keluasan imajinasinya tergambar pada lukisan-lukisan dan kayalan-khayalannya tentang ruang angkasa yang tiada berbatas.

Ironi Nasionalisme Daerah Perbatasan dalam Film “Tanah Surga... Katanya” : Suatu Tinjauan Sosiologis


Film “Tanah Surga Katanya” menjadi Film Terbaik FFI 2012.  Film bertemakan nasionalisme yang dibintangi oleh Fuad Idris sebgaia Hasyim, Ence Bagus sebagai Haris, Aji Santosa sebagai Salman, Tissa Biani Azzahra sebagai Salina, Ringgo Agus Rahman sebagai Dokter Anwar,  dan Astri Nurdin sebagai Astuti ini merupakan film satir terhadap pemerintah Indonesia atas ironi nasionalisme daerah perbatasan. Di tengah serangan gencar film-film horror yang kental dengan erotismenya, Herwin Novianto, sang sutradara, justru ingin mengingatkan kita pada permasalahan kesejahteraan di daerah perbatasan. Ia mengaku sengaja membuat film ini untuk memperingati hari kemerdekaan 17 Agustus 2012.Tanah Surga ...Katanya” menceritakan tentang kisah seorang anak di perbatasan Indonesia-Malaysia yang cinta akan Indonesia dan tidak ingin meninggalkan Indonesia meskipun diajak oleh Ayahnya pindah ke Malaysia. Sang anak terpacu oleh kakeknya yang dahulunya adalah tentara Indonesia saat melawan Malaysia.
            Latar film ini diambil di suatu dusun terpencil di pelosok Kalimantan, di daerah perbatasan Indonesia-Malaysia. Di dusun tersebut hanya ada satu sekolah dengan satu ruang dan satu papan tulis yang semuanya dibagi menjadi dua, yaitu sebelah sisi untuk kelas 3 dan sisi lainnya untuk kelas 4. Tidak jauh berbeda dengan tenaga pengajar, yaitu Ibu Guru Astuti adalah orang yang secara kebetulan dan terpaksa mengajar di dusun itu. Problematika pendidikan di daerah-daerah perbatasan karena minimnya fasilitas sarana dan pra-sarana merupakan penyebab dari rendahnya minat dan tingginya keengganan sumber daya manusia tenaga pengajar untuk bertugas di daerah pelosok seperti itu.
            Dalam film ini disuguhkan juga beberapa shoot yang mencitrakan bahwa negara Malaysia lebih mapan daripada negara Indonesia. Ada dua shoot yang paling menonjol. Shoot pertama yang perlu diperhatikan adalah ketika Haris, ayah Salman, datang ke dusun untuk menengok keluarganya. Saat melewati perbatasan, kamera mengarahkan shootnya tepat pada batas Malaysia-Indonesia di mana jalanan Malaysia sudah beraspal meski di daerah perbatasan, sedangkan jalanan Indonesia masih berupa tanah-kerikil yang jika hujan datang jalanan itu akan banyak terdapat genangan air dan berlumpur. Shoot selanjutnya yang menggambarkan ketimpangan antara pembangunan Indonesia dan Malaysia adalah ketika Salman datang ke sebuah pasar di Malaysia perbatasan. Ia terheran dan takjub akan kondisi Malaysia yang sangat jauh berbeda dengan dusunnya di Indonesia. Mulai dari bangunan-bangunan permanen (bertembok) bertingkat hingga sandang yang dikenakan orang-orang Malaysia. Semuanya nampak lebih baik.
Kehidupan yang ditawarkan di Malaysia yang jauh lebih baik mengakibatkan orang-orang di perbatasan rela melepas status WNI-nya. Namun, sesungguhnya masalah itu dapat ditanggulangi jika pemerintah Indonesia memberikan perhatian secara khusus untuk daerah perbatasan. Fenomena ini dapat dilihat pada adegan Haris membujuk Hasyim untuk pindah ke Malaysia.
Haris       :  Malaysia tu negeri yang makmur, Yah.
Hasyim    :  Negara kita lebih makmur, Haris.
Haris       :  Jakarta yang makmur, bukan di sini. Kita ni di pelosok Kalimantan. Siapa yang peduli?
Hasyim    :  Haris, mengatur negeri ini tidaklah mudah. Tidak semudah membalikkan telapak tangan. Tahu kau?
Haris       :  Tapi apa yang Ayah harapkan dari pemerintah? Mereka tidak pernah memberikan apa-apa untuk Ayah yang pernah berjuang di perbatasan.
Hasyim    : Aku mengabdi bukan untuk pemerintah. Tapi untuk negeri ini, bangsaku sendiri.
Haris       :  Sekali lagi, Yah. Aku cuma ingin menyejahterakan ayah, membahagiakan anak-anak. Dan aku…… aku sudah menikah dengan perempuan Malaysia, Yah.
Hasyim    :  Apa maksudmu, hah?!
Haris       :  Yah, supaya segala sesuatunya lebih mudah, saya harus menjadi warga negara sana, Yah. Yah, di sana ayah akan mendapatkan perawatan kesehatan yang lebih baik, anak-anak bisa bersekolah lebih tinggi, dan kita bisa tinggal di tempat yang lebih layak. Tak macam di sini, Yah!

Kebijakan sentralisasi politik dan pembangunan yang pernah diterapkan oleh pemerintahan Orde Baru dahulu memang memunculkan resistensi dari daerah-daerah. Sentralisasi pembangunan-pembangunan baik itu infrastruktur, pendidikan, dan sebagainya di pulau Jawa, khususnya di kota-kota besar seperti Jakarta, menimbulkan kesenjangan yang sangat timpang dengan daerah-daerah non-Jawa, terutama di daerah-daerah perbatasan. Walaupun pemerintahan Orde Baru sudah berakhir dan digantikan dengan pemerintahan era reformasi yang salah satu tuntutannya adalah kebijakan desentralisasi yang telah diwujudkan dalam bentuk otonomi daerah, namun masalah kesenjangan di daerah-daerah terpencil belum juga mendapatkan perhatian dari pemerintahan pusat dan daerah seperti dalam film ini. Padahal masalah pendidikan dan kesehatan secara terang-terangan sudah diatur dalam Undang-Undang Dasar 1945.
Perubahan sosial juga diceritakan dalam film ini. Sejak tahun 1963 ketika pemerintah RI melakukan Operasi Dwikora, yaitu perang melawan Malaysia, bendera Merah-Putih sudah tidak pernah dikibarkan lagi di daerah ini. Perang ini muncul sebagai akibat dari pelanggaran Malaysia atas perjanjian Manila. Malaysia menghina bangsa Indonesia. Simbol-simbol kenegaraan Indonesia di daerah ini dirusak.
Terkait dengan simbol-simbol itu, ada beberapa simbol negara Indonesia yang dihadirkan dalam film ini, yaitu bendera Merah-Putih, lagu Indonesia Raya, dan mata uang rupiah. Simbol-simbol tersebut digambarkan mengalami pendegradasian bahkan pengasingan dalam film ini. Pendegradasian terjadi pada simbol lagu kebangsaan Indonesia Raya. Saat itu, Dokter Anwar sedang mengajar anak-anak untuk menyanyikan lagu Indonesia Raya menggantikan Bu Astuti yang sedang ada keperluan di kota. Lized ditunjuk oleh Dokter Anwar untuk memimpin teman-temannya menyanyi. Namun, tidak disangka-sangka sebelumnya, yang dinyanyikan oleh anak-anak adalah lagu Kolam Susu, bukan lagu Indonesia Raya.
Anwar  :    Boleh kamu ke sini? Coba kamu pimpin semua temennya untuk nyanyi, ya. Kita menyanyikan lagu kebangsaan kita. Bisa, ya? Semuanya semangat, ya!
Lized   :    Siap, ya? Satu… dua… tiga… Bukan lautan hanya kolam susu, kali dan jala cukup menghidupimu…
Anwar  :    Stop dulu! Sebentar… sebentar… sebentar…
Lized   :    Kenapa, Pak?
Anwar  :    Kamu enggak tau lagu Indonesia Raya?
Lized   :    Dulu pernah diajarkan, Pak. Tapi sekarang dah lupa.
Anwar  :    Kenapa bisa lupa?
Lized   :    Ame sama kawan-kawan dah satu tahun diliburkan sebelum Bu Astuti datang.
Anwar  :    Jadi lagu nasional yang kamu tau apa?
Lized   :    Kolam susu.

Sementara itu, pengasingan terjadi pada dua simbol lainnya, yaitu bendera merah putih dan mata uang rupiah. Saat Bu Astuti menyuruh anak-anak untuk menunjukkan tugas membuat gambar bendera merah putih yang didapat olehnya adalah gambar-gambar berwarna merah dan putih yang bentuk dan komposisinya bukan berupa bendera Merah-Putih Indonesia. Ada yang berbentuk segitiga, layang-layang, garis belang-belang, dan lain sebagainya. Hanya Salina yang menggambar dengan benar. Itu pun ia ketahui dari kakeknya yang mantan pejuang perbatasan.
Tidak hanya sampai di situ, di film ini terdapat adegan lain yang lebih ironis, yaitu ketika pedagang Indonesia yang berdagang di Malaysia memakai bendera merah-putih sebagai kain pembungkus dagangannya. Dari sini dapat dilihat bahwa lambang negara yang satu ini tidak pernah dikenal oleh orang Indonesia sendiri.
Salman     :  Pak!
Pedagang  :  Apa?
Salman     :  Itu merah putih.
Pedagang  :  Ku tahu. Ini warnanya merah, ini warna putih, ini kuning, ini hijau, ini warna cokelat.
Salman     :  Merah putih itu bendera Indonesia, Pak.
Pedagang  :  Ini kain kan kain pembungkus dagangan aku.
Salman     :  Ini bendera pusaka.
Pedagang  :  (sambil menunjuk sebuah Mandau  milikny) Ini Mandau  pusaka kakek aku. Pergi no!

Di daerah perbatasan Indonesia-Malaysia seperti di pelosok Kalimantan ini, masyarakat pada umumnya tidak mengenal mata uang rupiah. Mereka hanya mengenal mata uang ringgit Malaysia. Hal ini dikarenakan orang-orang Indonesia di perbatasan ini berdagang di Malaysia daerah perbatasan. Mereka tidak berdagang dengan orang Indonesia di daerah lain karena akses untuk keluar dari daerah tersebut sangat sulit. Harus melalui sungai dan rawa-rawa yang penduduk sendiri tidak berani untuk melakukannya ketika hari sudah mulai gelap. Terlebih jika dihitung-hitung harga jual barang mereka akan melonjak tajam karena perhitungan biaya perjalanan mereka. Oleh karena itu, mereka lebih memlih untuk berdagang di Malaysia perbatasan.
Anwar   :    Makasih, ya. (sambil menyodorkan uang limapuluh ribu rupiah) Kembali tiga puluh.
Lized     :    Ini duit apa?
Anwar   :    Itu limapuluh ribu rupiah.
Lized     :    Tak pernah mandang ame.
Astuti    :    Lized, ada apa ini?
Lized     :    Bu Guru, dia mau tipu saya. Dia kasih saya uang palsu.
Anwar   :    Ini uang asli, Ibu. Limapuluh ribu. Bisa dilihat, diraba, diterawang. Asli ini.
Astuti    :    Ini duit Bapak saya tukar dengan ringgit, ya.
Lized     :    Nah, ini baru duit.

            Dari uraian ketiga simbol di atas, dapat dilihat bahwa ada suatu bentuk penyimpangan secara tersembunyi yang hanya dapat diketahui oleh masyarakat yang mengenali Indonesia dan memahami nasionalisme sebagai bentuk rasa cinta terhadap negerinya. Realita yang terjadi di masyarakat perbatasan adalah hilangnya nasionalisme tersebut. Meski sangat dimungkinkan dalam pembuatan film sutradara mendistorsi realita lain yang terkait dengan masalah ini dan hanya memfokuskannya pada masalah hilangnya nasionalisme.
Terkait dengan judul “Tanah Surga Katanya”, dalam film ini dikisahkan suatu hari ada pejabat provinsi datang ke sekolah Salman. Murid-murid menyambutnya dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya dan tarian khas Kalimantan Barat. Adapun sajian lain yang ditampilkan untuk para pejabat adalah deklamasi puisi karangan Salman oleh dirinya sendiri. Puisi itu merupakan puisi satir dengan judul Tanah Surga gubahan dari lirik lagu Kolam Susu yang sering didengar dan dinyanyikan anak-anak di dusun itu. Berikut lirik puisi Tanah Surga yang dibawakan oleh Salman.
Tanah Surga
Bukan lautan hanya kolam susu, katanya...
tapi kata kakekku, hanya orang-orang kaya yang bisa minum susu
Kayu dan jala cukup untuk menghidupimu, katanya...
tapi kata kakekku, ikan-ikan kita dicuri oleh banyak negara
Tiada badai tiada topan kau temui, katanya ...
tapi kenapa ayahku  tertiup angin ke Malaysia
Ikan dan udang menghampiri dirimu, katanya...
tapi kata kakek, awas! Ada udang di balik batu!
Orang bilang tanah kita tanah surga, tongkat dan batu jadi tanaman, katanya...
tapi kata dokter Intel belum semua rakyatnya sejahtera,
banyak pejabat yang menjual kayu dan batu untuk membangun surganya sendiri

Di akhir cerita, kakek Salman, Hasyim yang merupakan veteran pejuang perbatasan meninggal karena sakit jantung yang dideritanya. Selama ini, ia tidak mengobati penyakitnya. Alasan biaya menjadi alasan klasik dan lumrah bagi veteran apalgi yang tinggal di daerah perbatasan. Jangankan untuk dirawat di rumah sakit, membeli obat-obatannya pun ia tak mampu. Biaya perjalanan menggunakan sampan ke kota pulang pergi sudah menghabiskan 400 ringgit. Uang sebanyak itu memang tidak mustahil diperoleh, namun alangkah lebih berartinya bila uang sebanyak itu dipakai untuk keperluan lain daripada dihabiskan hanya untuk biaya perjalanan mengobati penyakitnya. Ia berpikir, kebutuhan cucu-cucunya jauh lebih penting daripada pengobatan penyakitnya itu.
Sebelum meninggal, Hasyim berpesan kepada cucunya, Salman, agar tetap mencintai bangsanya.
Hasyim  : Salman…
Salman   : Iya, Kek…
Hasyim  : Indonesia tanah surga. Apa pun yang terjadi pada dirimu, jangan sampai kehilangan cintamu pada negeri ini. Genggam erat cita-citamu, katakan kepada dunia dengan bangga “kami bangsa Indonesia….” Laa illaaha illallaah…..
Salman   : Kakek….!!

Sementara itu, di lain tempat, Haris sedang ber-euforia bersama warga Malaysia atas kemenangan Malaysia pada pertandingan sepakbola Malaysia melawan Indonesia. Dengan bangganya ia mengibarkan spanduk Malaysia. Dengan sepenuh hati ia mendukung Malaysia untuk menjadi jawaranya. Hilangnya rasa memiliki Indonesia, bergeseranya identitas diri menjadi orang Malaysia, telah terpatri dalam diri Haris.
Demikian digambarkan adanya perbedaan ideologi dari generasi satu ke generasi berikutnya, yaitu generasi nasionalisme Hasyim dengan generasi matrealistis Haris. Proses sosial yang terjadi dalam masyarakat perbatasan di mana mereka lebih sering berinteraksi dengan bangsa lain, ditambah dengan tidak adanya sosialisasi akan makna dan nilai nasionalisme mengakibatkan hilangnya rasa memiliki dan rasa cinta tanah air masyarakat tersebut.

Epilog
            Pusat perhatian sosiologis adalah bagaimana kelompok-kelompok dan institusi-institusi berfungsi. Insitutsi di sini dipahami sebagai cara-cara terbentuknya sebuah pola dan mengorganisasikan kehidupan sosial.
Fenomena-fenomena yang digambarkan di atas merefleksikan bagaimana sebuah masyarakat membentuk pola dan mengorganisasikan kehidupan sosial. Identitas sosial mereka mengalami pergeseran, yang mulanya mengaku orang Indonesia kemudian setelah mereka merasa tidak mendapat perhatian oleh pemerintah Indonesia dan merasa lebih difasilitasi oleh negara Malaysia, mereka pun berusaha untuk menjadi warga negara Malaysia. Salah satu upaya yang mereka lakukan adalah menikah dengan orang Malaysia dan bertempat tinggal di sana. Entah ada berapa puluh atau bahkan ratus orang yang telah mengalami pergeseran identitas itu, berpindah kewarganegaran dan domisili, semuanya tidak pernah tercatat dalam administrasi pemerintahan Indonesia. Nasionalisme warga negara Indonesia di perbatasan seolah tergadai karena tuntutan ekonomi. Tidak ada yang mensosialisasikan nasionalisme, sementara kebutuhan ekonomi, pendidikan, dan kesehatan terus meningkat. Pemerintah Indonesia juga tidak pernah melakukan usaha prefentif maupun represif untuk para WNI yang berpindah kewarganegaraan dan domisili.
Film “Tanah Surga... Katanya” hanyalah contoh kecil film yang kental dengan teori sosiologi. Hasyim yang berusaha tetap mempertahankan nasionalismenya dalam gencarnya  perubahan pola pikir dan hidup masyarakat daerah perbatasan untuk lebih memilih Malaysia sebagai tempat berlabuh, ia tularkan kepada cucunya, Salman. Nasionalisme itu ternyata dapat diterima dengan baik olehnya, meski ayahnya telah berpindah kewarganegaraan dan domisili dengan kehidupan yang lebih layak. Ia bertahan dengan nasionalisme yang sarat keterbatasan.
Seandainya jika kita yang mengalami kenyataan seperti di atas, apakah kita akan tetap mempertahankan nasionalisme seperti Hasyim? Atau memilih jalan realistis mendapat keuntungan materi yang lebih banyak dengan mempertaruhkan nasionalisme kita seperti Haris? 


Daftar Rujukan
Adi, Tri Nugroho. 2011. Analisis Sosiologis dalam Film, sinaukomunikasi.wordpress.com. Diakses 3 Oktober 2012.
Fachrozi, Irzan. 2012. Tanah Surga Katanya? Sebuah Analisis, ........ Diakses 29 Desember 2012.
Film Tanah Surga Katanya. wikipedia.co.id. Diakses 29 Desember 2012.